Batu Lingga Payung Manonjaya Tasikmalaya, Situs Kabuyutan yang Sarat Sejarah, Tradisi, dan Misteri
TASIKMALAYA | Mediatipikornewsindonesi.com – Batu Lingga Payung di kawasan Kabuyutan Gunung Payung, Dusun Awi Luar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, merupakan salah satu situs budaya yang hingga kini masih menyimpan berbagai kisah sejarah, tradisi, dan misteri yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Di kalangan masyarakat setempat, situs ini dikenal sebagai Batu Lingga Agung. Dalam tradisi lisan, batu tersebut diyakini pernah bertatahkan intan permata sehingga memancarkan kilau yang luar biasa. Namun, kisah tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari legenda dan belum dapat dibuktikan secara arkeologis.
Kabuyutan Gunung Payung dipercaya sebagai kawasan suci sejak masa Kerajaan Galuh. Menurut cerita yang berkembang, tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi pertapaan para tokoh kerajaan dan menjadi salah satu kabuyutan yang disakralkan oleh masyarakat Sunda sejak masa lampau.
Salah satu kisah yang paling sering dikaitkan dengan situs ini adalah perjalanan Bujangga Manik, tokoh dalam naskah Sunda Kuno yang terkenal di kalangan akademisi. Dalam naskah tersebut disebutkan adanya sebuah tempat suci dengan lingga yang dihiasi permata, serta kawasan kabuyutan yang memiliki bangunan-bangunan tempat tinggal dan taman yang indah.
Sebagian pemerhati sejarah mengaitkan deskripsi tersebut dengan Kabuyutan Gunung Payung. Meski demikian, hubungan antara isi naskah Bujangga Manik dan situs ini masih menjadi bahan kajian para peneliti dan belum mencapai kesimpulan yang pasti.
Selain Batu Lingga, kawasan Gunung Payung juga memiliki sejumlah objek yang dianggap memiliki nilai sejarah dan budaya, di antaranya Batu Pangasahan Maung yang dipercaya memiliki bekas goresan cakar harimau, dua pohon Kiara tua yang dikenal sebagai Kiara Kursi, serta Cikahuripan yang oleh masyarakat digunakan sebagai tempat menyucikan diri sebelum memasuki kawasan kabuyutan.
Di puncak kawasan juga terdapat dua makam kuno yang dipercaya masyarakat sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih, tokoh yang dikaitkan dengan leluhur Kerajaan Galunggung pada masa Batari Hyang. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat yang terus dijaga hingga sekarang.
Hingga saat ini, masyarakat masih melestarikan tradisi Nyagara Gunung atau Nyapu Beberesih Kabuyutan, yaitu kegiatan membersihkan kawasan situs yang biasanya dilaksanakan setiap bulan Maulud dan bulan Sya’ban menjelang Ramadan. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya serta upaya menjaga kelestarian situs leluhur.
Terlepas dari berbagai kisah yang berkembang, Batu Lingga Payung tetap menjadi salah satu situs budaya yang menarik untuk dikunjungi sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Sunda. Keindahan alam, suasana yang tenang, serta nilai historis yang melekat menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang mengundang rasa ingin tahu banyak orang.
(Redaksi )